Malam di Kota Malang

by - Agustus 07, 2018



Malang, 7 Agustus 2018.

Terdiam memandangi kebisingan yang berlalu-lalang di jalanan kecil tempat aku berada. Aku dengan hentakan lirih sandal jepitku sembari menunggu komplotan kentang goreng siap diangkat dari penggorengan. Banyak yang ingin ku ceritakan tentang satu waktu itu. Satu waktu di mana pikiranku terpecah-belah untuk beberapa peristiwa. Baiklah, biar ku jelaskan semampuku...

Malam itu, ku putuskan untuk segera merampungkan suatu hal. Kutentang keras ungkapan hati yang selama ini terbiasa menyepelehkan waktu. Iya, selama ini aku cenderung senang menunda hal-hal yang kuanggap remeh dengan asumsi waktu yang tersisa masih cukup banyak. Sebuah kebiasaan yang ingin ku akhiri mulai hari ini (catat ya!). Setelah tuntas dengan urusanku itu, ku lanjutkan membuat bahagia perut di malam hari dengan membeli jajanan di tempat biasa (serba lima ribu, letaknya di Gang VI depan tempat fotocopy). Tidak ada ibu-ibu biasanya, hanya ada anak laki-laki. Kupesan satu porsi kentang goreng dengan memastikan bahwasanya dia sanggup. Dia pun menyanggupinya.

Seketika muncul seorang anak kecil (berusia ±3 tahun) berlarian mengitari tempat dudukku. Anak kecil yang mengingatkanku kepada keponakanku di rumah, Amel. Tanpa sadar aku pun tersenyum memperhatikan ia berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Sangat menggemaskan. Dan entah mengapa, pikiranku melayang ke hal-hal yang lain meninggalkan tingkah lucu anak kecil tadi. Sebuah ruang kosong yang tiba-tiba tercipta dengan ilusiku sendiri. Di sana terpampang nyata sebuah kata “COMMITTED”. Kata yang perlahan mendekatiku dan memaksaku untuk terus mengingatnya. Kata yang menuntut sebuah tindakan nyata dariku. Kata yang menuntut persetujuan dari seluruh bagian dari diriku untuk memulai sebuah tanggung jawab. “Ayolah, kamu pasti bisa!”

Sesekali kulirik anak laki-laki yang sedang mengaduk-aduk penggorengan. Kemudian ku bandingkan dengan aku yang sedang duduk manis diam dan meratapi peristiwa-peristiwa di sekitarku. Percayalah, pikiranku semakin kalut pada saat itu. Dihantam sebuah keinginan untuk segera mendapatkan pekerjaan yang layak. Pekerjaan yang dapat kujamin dengan sebuah pernyataan bahwa aku telah lulus dari program Sarjana. Sebuah pergolakan batin dengan segala kegengsiannya. Perlahan sedang ku lenyapkan pikiran-pikiran itu. Pikiran yang membuatku tidak percaya dengan kemampuanku sendiri yang telah diberikan Tuhan sebagai wujud kebaikan-Nya kepadaku.

Ku usahakan semampuku agar uang tidak mendominasi ambisiku. Agar aku tidak cepat termakan omongan-omongan yang mendewakan uang dalam segala kebutuhan. Setidaknya aku bukan Sarjana yang mengemis pundi-pundi uang dari ayah dan ibuku. Setidaknya aku bukan Sarjana yang hanya bisa berdiam diri menunggu gelar Sarjanaku laku di bangunan yang katanya perusahaan. Ini statement jahat. Banyak Sarjana yang mungkin akan tersakiti, tergores, tercabik hatinya. Jika kamu tidak setuju, maka biarkan ini berlaku untukku saja. Aku hanya tidak ingin terlena dengan ekspektasi yang membumbung tinggi di angkasa. Lebih tepatnya tidak ingin kecewa meskipun itu manusiawi. Sekali lagi, sedang ku usahakan.


“Mbak, sudah.” Ruang ilusi itu seketika menghilang. Aku kembali dengan satu porsi kentang goreng dan angan yang memadat menjadi tekad. Kututup hari ini dengan menguntai kalimat-kalimat ini. Bayaran untuk kelelahan hari ini, mengungkap hal-hal yang menyumbat di hati dan tidak baik jika disimpan terlalu lama. Selamat malam dan jangan lupa hadir di kampus sebelum pukul 07.00 WIB untuk sebuah janji.

You May Also Like

0 komentar